Empati Kebangsaan: Solusi Antisipasi Chaos Sosial
Yorke (2019) menyatakan bahwa “If we start to develop humility about our own lived experiences and understand other people more, we will find far greater ties of humanity between us. We all share similar struggles & aspirations - so it will help us to connect more." Kutipan tersebut bermakna bahwa kemampuan untuk membangun kerendahan hati (humility) hanya bisa dibangun dengan meresapi pengalaman hidup kita dan lebih memahami orang lain, maka ikatan kemanusiaan akan lebih terjalin di antara sesama manusia. Maka dari sinilah akan terbangun kesetiakawanan (social solidarity).
Penulis menulis tulisan sederhana dan singkat ini dengan rasa yang penuh harap dan berdoa kepada Allah swt. Semoga gejolak demonstrasi masyarakat terhadap ketidakpuasan kinerja wakil rakyat tegasnya DPR/DPRD semakin kondusif dan tertib. Ketidapuasan dan rasa marah yang memuncak dengan adanya kenaikan tunjangan anggota DPR wakil rakyat di tengah-tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak baik baik saja dan daya beli masyarakat yang semakin menurun. Bahkan bisa menjadi bola salju (snowball) dari ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan dan kebijakan pemerintah secara makro dalam aspek penegakkan hukum dan ketimpangan ekonomi yang semakin terbuka lebar.
Di tengah tengah hiruk pikuk demonstrasi bahkan menimbulkan korban jiwa baik di pihak masyarakat pendemo dan aparat. Demonstrasi besar-besaran sebagai gerakan rakyat (people power) diyakini masih merupakan senjata ampuh yang dapat merubah kebijakan baik di tataran yudikatif, eksekutif dan legislatif. Gejolak demonstrasi berujung chaos, rusuh, penjarahan dan kekerasan masih berlangsung di beberapa daerah. Tentunya dalam kaca mata hukum dan tatanan sosial yang beradab dan bernorma tindakan seperti perusakan fasilitas umum, penjarahan, pemukulan, kekerasan verbal dan fisik yang tidak berkaitan dengan mekanisme penyampaian unjuk rasa adalah tidak dibenarkan. Penanganan atau respon pihak yang didemo pun seperti kepala daerah, anggota DPRD dan kepolisian atau keamanan berbeda-beda.
Dalam hemat penulis, ujung pangkal dari segala gejolak sosial yang saat ini berlangsung berupa demonstrasi atau unjuk rasa oleh masyarakat baik di pusat atau daerah adalah menurunnya untuk tidak mengatakan hilangnya rasa empati (emphaty) dari kalangan legislatif anggota DPR terkait dengan kenaikan tunjangan jabatan serta cara komunikasi anggota DPR dalam merespon tuntutan masyarakat. Fenomena verbal anggota DPR yang menyatakan bahwa orang yang ingin membubarkan DPR adalah orang terto*** sedunia juga seharusnya tidak pantas disampaikan. Terlebih lagi aksi dance happy and fun beberapa anggota DPR ketika diumumkan kenaikan tunjangan yang dipertontonkan ke publik oleh media massa di tengah kondisi masyarakat yang ekonominya sedang sulit.
Empati adalah kemampuan untuk merasakan (feeling) dan berbagi (sharing) terkait kondisi atau keadaan (state) yang dialami oleh orang lain. Empati ditunjukkan dengan cara tidak melakukan hal atau sikap yang dapat melukai, menyinggung, cemburu atau perasaan inferior terhadap orang lain. Sebagai makhluk sosial yang hidup dalam komunitas dan kolektif maka manusia tidak dapat hidup atau bebas hidup sendiri tanpa memikirkan atau mempertimbangkan kondisi manusia lainnya di sekitarnya. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kerukunan dan keamanan sosial di tengah tengah perbedaan status sosial yang masih cukup lebar dan timpang perbedaannya. Dus, akumulasi luapan kemarahan (rage) masyarakat yang terjadi melalui demonstrasi merupakan bentuk dari akibat rasa empati wakil rakyat dan penyelenggara negara yang menurun.
Membaur dan Menumbuhkan Empati
Kekesalan dan anarkisme kekerasan yang memuncak dengan merusak fasilitas umum bahkan Gedung DPR atau fasilitas lainnya dikarenakan ada saluran (channel) komunikasi yang tersumbat. Kejadian demonstrasi sebagai cara atau saluran untuk berdemokrasi sebaiknya direspon langsung secara lengkap dengan bahasa komunikasi yang verbal dan non-verbal dan setidaknya dapat menenangkan gejolak emosi pendemo serta lebih membuka dialog disertai penyampaian edukatif yang mengedepankan hal-hal atau isu bersama (common sense). Komunikasi yang empatik, tulus dari hati yang sifatnya persuasif dan retoris yang mengena dan efektif akan dapat meredam emosi massa yang tersulut.
Kehadiran fisik sasaran para demonstran untuk mau berkomunikasi akan lebih efektif daripada mengarahkan penghalang atau barikade kendaraan serta perisai (shield) aparat petugas kepolisian atau TNI. Kehadiran aparat kepolisian dan TNI sejatinya juga dihadiri oleh para pejabat pemerintahan atau kepala daerah dan legislatif untuk dapat meredam emosi massa dan mencegah tindakan anarkis massa.
Sudah saatnya anggota DPR/DPRD dan pejabat publik serta birokrat untuk lebih arif dan bijaksana dalam mengeluarkan pernyataan atau narasi argument tanpa menghakimi atau mengeluarkan kata-kata verbal yang malah menimbulkan kontroversi dan perlawanan argument yang tajam dari masyarakat. Rencana kenaikan tunjangan anggota DPR sebaiknya dikaji ulang dan ditunda sampai dengan masyarakat puas dengan kinerja wakil rakyat dan penyelenggara negara atau pemerintahan baik di pusat atau daerah. Sekedar mengingatkan bahwa menjadi anggota DPR/DPRD atau pejabat pemerintahan sejatinya dan hakikatnya adalah menjadi pelayan masyarakat, bukan atasan atau pesuruh masyarakat, terlebih dengan kebijakan-kebijakan yang tidak pro-rakyat dan malah menyengsarakan masyarakat.
Semoga peristiwa chaos pada demonstrasi disikapi oleh pemerintah dan wakil rakyat dengan mengedepankan dialog yang simpatik dan empatik dengan hadir langsung di tengah kerumunan (crowd) massa diringi dengan permohonan maaf kepada massa demonstrasi atau masyarakat atas keresahan publik yang terjadi akibat kebijakan pemerintah atau DPR/DPRD yang tidak ada empati terhadap realitas kondisi masyarakat banyak. Semoga para pemimpin dan penyelenggara negara dan wakil rakyat semakin memiliki rasa empati yang tinggi dan menginsafi bahwa amanat rakyat yang diberikan harus dapat memberikan hal yang positif dan bermanfaat untuk rakyat dan tidak hanya untuk memperkaya dan pamer dengan kegagahan sebagai pejabat atau wakil rakyat. Semoga saja. Tetap damai Indonesiaku!
Oleh : Rudi Haryono
Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya
Mahasiswa S3 Unika Atma Jaya Jakarta